Dia Tidak Tersesat, Dia Hanya Sedang Menjadi Diri Sendiri

She’s Not Lost, She’s Just Becoming

Ada rentang waktu—masa tenang dan tak terkendali—ketika segala sesuatu yang familiar mulai lenyap. Rencana berantakan, ritme goyah, dan Anda mendapati diri Anda terombang-ambing di lautan pertanyaan. Anda mungkin menyebutnya tersesat, tetapi itu tampaknya tidak tepat. Karena bahkan di sini, di tengah ketidakpastian, ada sebuah pemahaman. Sebuah dengungan tenang jauh di dalam yang berbisik, “Ini bukanlah akhir. Ini adalah proses menjadi.”

Dia tidak tersesat; dia sedang melepaskan diri. Dia sedang mengupas kisah yang tidak lagi terasa miliknya, melepaskan harapan yang pernah dia pikul seperti perisai. Dia sedang memberi ruang—bukan untuk jawaban instan, tetapi untuk kelapangan agar dapat mengajukan pertanyaan yang lebih baik. “Siapakah aku, di balik kebisingan?” “Apa yang sebenarnya ingin aku pegang?” “Apa yang bisa aku lepaskan?”

Prosesnya tidak berjalan mulus. Menjadi diri sendiri jarang terjadi begitu saja. Rasanya seperti mengembara, berputar-putar kembali, lalu memulai lagi. Rasanya seperti meminta petunjuk arah, hanya untuk menyadari bahwa peta itu tidak berguna karena tidak dapat menjelaskan medan hatimu. Tetapi bagaimana jika ini bukan tanpa tujuan? Bagaimana jika ini adalah jalan yang memang ditakdirkan untuknya—jalan yang berliku dan tak terduga yang akan meninggalkan jejaknya bagi orang lain untuk diikuti?

Ketidakpastian bukanlah kegagalan. Ia adalah jeda di antara bab-bab, momen menegangkan di mana segalanya melunak, berputar. Ia adalah ruang liminal di mana yang lama lenyap, tetapi yang baru masih belajar bagaimana menyebut namanya. Ini bukan keputusasaan—ini adalah potensi. Sesuatu yang berani dan belum terbentuk. Sesuatu yang sejati.

Dia tidak tersesat; dia sedang belajar kebebasan—kebebasan yang belum terpetakan yang datang ketika Anda berhenti bergulat dengan arus dan membiarkan diri Anda hanyut menuju apa yang penting. Setiap matahari terbit yang dia pertanyakan, setiap pilihan yang dia perjuangkan, setiap langkah kecil yang dia ambil menuju kejelasan adalah bukti bahwa dia tidak terjebak. Dia menumbuhkan akar di tanahnya sendiri yang belum terjamah, bahkan ketika dia belum merasakan kekuatan akar tersebut.

Proses menjadi tidak menuntut kesempurnaan darinya. Proses ini tidak menuntutnya untuk hadir dalam bentuk yang sempurna. Proses ini hanya menuntut kesabaran, rasa ingin tahu, dan kepercayaannya. Proses ini menuntutnya untuk bersikap baik kepada versi dirinya yang masih belajar, versi yang terasa lembut, mentah, dan tidak yakin tetapi tetap hadir. Karena di sinilah—dalam pijakan yang tidak stabil, dalam proses menyaring mimpi dan keraguan—ia akan bertemu dengan wanita yang seharusnya ia menjadi.

Dan ya, akan ada saat-saat ketika dia merasa terbebani oleh hal yang tidak diketahui dan bertanya-tanya apakah dia telah kehilangan terlalu banyak, meninggalkan terlalu banyak kepingan di belakang. Tetapi sedikit demi sedikit, hari demi hari, dia sedang menciptakan sesuatu yang baru. Bukan kembali menjadi dirinya yang dulu, bukan membangun kehidupan yang orang lain rancang untuknya, tetapi menciptakan—dan menjadi—apa yang terasa seperti rumah.

Terkadang evolusi terasa tanpa bobot; di lain waktu, terasa seperti melangkah ke dalam kehampaan. Tetapi suatu hari nanti, dia akan melihat dirinya sendiri di sisi lain, dan dia akan melihatnya—keindahan ketidakpastian, kekuatan dalam tidak memiliki semua jawaban, kebijaksanaan dalam sekadar menjadi diri sendiri.

Dia sama sekali tidak tersesat. Dia hanya menjadi—sedikit lebih berani, sedikit lebih liar, sedikit lebih menjadi dirinya sendiri di setiap belokan jalan.

Tag:
Posting Lama Kembali ke DEAR RISERS Postingan Terbaru